Awal tahun 2018 Kabupaten Tana Toraja terpaksa dinodai dengan adanya kasus pemerkosaan pelajar yang dilakukan oknum sopir angkutan kota yang ditangkap oleh anggota Polres Tator pada Selasa lalu, 23 Januari 2018.

KabarToraja.com — Awal tahun 2018 Kabupaten Tana Toraja terpaksa dinodai dengan adanya kasus pemerkosaan pelajar yang dilakukan oknum sopir angkutan kota yang ditangkap oleh anggota Polres Tator pada Selasa lalu, 23 Januari 2018.

Siswi kelas 1 SMA tersebut membuat anggota Polres dengan cepat menangkap pelaku yang memperkosa korban ketika akan pulang kerumah dengan menaiki angkutan kota jurusan Makale-Terminal.

Maraknya kasus kekerasan seksual terkhusus kepada perempuan yang menjadi korban membuat ketua Solidaritas Perempuan Anging Mammiri angkat suara.

“Berbicara kekerasan terhadap perempuan ada banyak jenisnya, salah satunya itu kekerasan seksual, kenapa ini sering terjadi karena mindset masyarakat yang melihat tubuh perempuan sebagai objek seksual,” tutur Musdalifah Jamal yang kerap disapa Ifah, Ketua Solidaritas Perempuan Anging Mammiri yang merupakan organisasi pergerakan perempuan di Sulawesi Selatan.

Ifah menambahkan bahwa seringnya perempuan menjadi korban dalam kekerasan seksual disebabkan pemikiran masyarakat yang terjebak dalam sistem patriarki yang melihat perempuan sebagai makhluk lemah dan tidak memiliki ruang gerak.

Walau tidak memfokuskan gerak organisasi hanya pada kasus kekerasan seksual, Solidaritas Perempuan telah memiliki banyak pengalaman dan keberhasilan dalam mengadvokasi kasus-kasus kekerasan seksual.

“Isu seksualitas adalah isu yang sangat tidak semua orang sudah memahami, karena ada banyak ketika kita berbicara tentang seksualiatas itu hanya hubungan perempuan dan laki-laki, padahal ada banyak hal selain itu,” tambahnya.

Ifah menjelaskan pemahaman akan pentingnya kesadaran terkait isu seksualitas tidak hanya penting untuk masyarakat tetapi juga pemerintah.

Solidaritas Perempuan Anging Mammiri telah mengupayakan dalam mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak mendiskrimasi tubuh perempuan dan dapat menjadi payung hukum yang adil bagi semua.

“Sekarang kita dan teman-teman jaringan berupaya untuk mengesahkan RUU kekerasan seksual yang meskipun dari tahun 2016 sudah masuk agenda tapi sampai sekarang belum di sahkan,
sebenarnya ketika ada payung hukum, ini bisa meminimalisir kekerasan seksual karena kekerasan seksual itu tantangannya adalah korban yang tidak mau terbuka,” jelasnya ifah dalam menyesali terjadinya kasus pemerkosaan di Kabupaten Tana Toraja.

Informasi pemerkosaan dari hasil laporan orangtua korban menjelaskan awalnya korban memperingati Hari Bakti Yayasan Paulus Makassar yang diikuti oleh Pegawai (Guru SMP/SMA) Yayasan Katolik di Tana Toraja sebelum akhirnya diperkosa oleh supir angkot yang menghalangi korban turun dari angkotnya dan dibawah ke arah Batupapan dimana pelaku yang merupakan teman sopir angkot yang duduk dibelakang bersama korban menyetubuhi korban diatas angkot yang berjalan hingga akhirnya korban diturunkan disekitar wilayah Kelurahan Kamali Pentalluan.

Tindak asusila yang terjadi sepanjang tahun 2016 hingga tahun 2017 perlahan mulai menurun. Data dari Polda Sulsel melaui Kabis Humas Polda, Dicky Sondani pada akhir Desember 2017 lalu mengatakan jika angka kasus perkosaan dan pencabulan di wilayah Sulsel sudah mulai menurun.

Dimana tahun 2016, perkosaan dan pencabulan 352 pelaku dan 337 korban. Diantaranya, perkosaan 148, diselesaikan 123 dan pencabulan 189 dan diselesaikan 127.

Sementara itu data Tahun 2017, perkosaan dan pencabulan, ada 272 pelaku dari 238 korban. Yakni, Perkosaan 46, diselesaikan 32 dan juga pencabulan 192, dan diselesaikan 147. [Penulis: Fajar/Fz]

LEAVE A REPLY