Kapurung [Int]

KabarToraja.com — Curah hujan yang sangat tinggi di Sulawesi Selatan termasuk di wilayah Tana Toraja, Toraja Utara dan sekitarnya di bulan Februari 2018 ini membutuhkan asupan yang berbeda, dimana saat-saat hujan dibutuhkan untuk mengkonsumsi makanan yang hangat seperti sup, mie instan, dan coto.

Mengkonsumsi makanan-makanan yang berat dan membuat selera bergairah memang tak jauh dari makanan yang berkuah, tak heran di Toraja disaat musim hujan makanan khas pun mulai bermunculan jika saat-saat musim hujan.

Selain mie instan, makanan yang kerap membuat selera makan bertambah yakni Kapurung, Sup Kepala Ikan Kakap (Bale Karappe), Papiong Bale Karappe, Bale Tollo Pamarrasan dan juga Lawak’

1. Mie Instan (Mie Rebus)
Makanan ini tak pernah luput disantap saat musim hujan tiba, mie rebus yang kerap dipadu dengan Telur, dan daging ayam juga menambah selera makan. Bahkan di Toraja mie rebus juga biasanya diberi sedikit lada katokkon (Lada), hal ini menambah gairah makan bertambah karena rasa pedas yang nikmat, apalagi disaat hujan tiba.

2. Kapurung
Makan khas Sulawesi Selatan yakni Kapurung juga menjadi favorit jika disantap musim hujan. Bahan dari sagu ini memang paling nikmat jika dibuat bersama-sama dan disantap bersama kala hujan. Makanan yang berasal dari Luwu, Palopo ini sangat digemari di Toraja.

Orang Toraja kerap menyebutnya Pugalu, dimana makanan ini memang jarang dijumpai di warung-warung atau restoran di Toraja. Pasalnya sebagian orang Toraja lebih mahir mengolah Pugalu dan mencampurnya dengan berbagai bahan lainnya, seperti daging kerbau atau ayam lawa’.

3. Sup Kepala Ikan (Ulu Bale Karappe)
Sup Kepala Ikan menjadi referensi baru untuk asupan makanan saat musim hujan, tak seperti kepala ikan yang ada di berbagai daerah lainnya. Bale Karappe (Ikan Kakap) menjadi bahan baku untuk membuat sup kepala Ikan ini.

Hampir sama sup kepala ikan lainnya, sup ini memang menjadi bahan referensi baru karena jika dicampur dengan bumbu masak, apalagi penyedap masakan seperti buah katapi’, membuat selera makan bertambah.

4. Coto Kerbau

Jangan heran jika di Toraja kini ada beberapa penjual Coto menjajakan Coto Kerbau. Meski umumnya di Makassar dan didaerah lain di Sulsel menyajikan bahan coto dari daging Sapi. Tapi di Toraja memadukan Coto dengan bahan daging Kerbau. Coto Kerbau juga menjadi makanan favorit jika disantap saat musim hujan tiba.

5. Papiong Bale

Makanan khas yang dibungkus bambu saat di masak diatas tungku, Papiong orang Toraja menyebutnya. Kali ini Papiong Bale paling diminati jika musim hujan melanda dan disantap bersama-sama. Dimana Ikan Kakap yang dimasukan kedalam Bambu (Suke’) dan bahan didalamnya ikan dan bersama sayur bulunangko menjadi paduan yang dinikmat jika coba saat masih hangat.

6. Bale Tollo’ Pammarasan
Ikan kakap kembali menjadi bahan makanan dari Bale Tollo Pamarrasan, namun tidak mesti ikan kakap masih ada belut atau orang Toraja menyebutnya Lendong. Dipadukan dengan bumbu Pammarasan.

Pamarrasan yang hitam pekat dan diberi sedikit lombok toraja (lada kecil) atau Lada Katokkon menjadi pas saat disantap. Apalagi di musim penghujan pun datang.

7. Lawa’
Bahan dasar Jantung Pisang muda, Lawa’ adalah masakan yang tidak hanya diperkenalkan dari Luwu, atau di Palopo tapi masakan ini juga membuat seluruh Indonesia suka masakan ini. Jantung pisang diiris kecil dan remas bersama kelapa parut, belimbing iris, garam dan bumbu halus. Sangat sederhana meski tidak direbus, masakan ini sama seperti masakan Urap.

Jika di wilayah Jawa Urap adalah hidangan salad berupa sayuran yang dimasak yang dicampur kelapa parut yang dibumbui sebagai pemberi citarasa. Dan Masakan Lawa’ jika di Toraja orang-orang menyebutnya Pa’Lawa’, dimana makanan khas ini juga bisa dicampur ikan, ayam bahkan daging-dagingan. [Berbagai Sumber/Fritz]

LEAVE A REPLY