KabarToraja.com — Kolam Makale yang menjadi ikon Tana Toraja kini masih terlihat kering, tidak nampak layaknya kolam. Pantauan KabarToraja.com pada Rabu 21 Februari
2018 jika kolam tersebut belum terisi. Bahkan dikabarkan sebelumnya jika revitalisasi kolam tersebut bakal selesai hingga akhir tahun 2017 lalu.

Bundaran kolam Makale dengan memiliki patung Lakipadada menelan anggaran Rp 2.206.555.000 yang dikerjakan kontraktor pelaksana CV, Agri Forest, dimana target
pengerjaannya berakhir hingga akhir tahun 2017, namun pihak Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman menambah jangka
waktu 90 hari kalender. Hal tersebut dikatakan Kadis Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, YD Pamara saat ditemui KabarToraja.com pada Sabtu 27 Januari 2018 lalu.

Hingga kini belum nampak pengerjaan kolam Makale, dimana sebelumnya jika ikon Tana Toraja tersebut bakal dipercantik dengan hadirnya air mancur yang menghiasi patung
Lakipadada. Padahal Kadis Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukikman, YD Pamara menegaskan kami memberikan penambahan 50 hari kerja untuk menyelesaikan Kolam Makale,
jika belum terselesaikan ia jelas memutuskan kontrak dari kontraktor pelaksana yang ditunjuk.

“Kita kasih tambahan waktu 50 hari kedepan, lebih dari waktu yang kita tentukan yah..kita denda, atau putus kontraknya”tambahnya.

YD Pamara berharap jika pengerjaannya lebih cepat agar dapat terselesaikan dan tidak terlalu lama, karena mengingat pengerjaannya sudah diberi tambahan waktu.

“Jangan sampai kontraktor main-main sama kita, kalau masih lama atau lebih 50 hari lagi, kita putus kontrak”Tegas YD Pamara.

Terpisah dengan Anggota DPRD Tana Toraja Komisi 3 dari fraksi Partai Golkar, Nico Mangera juga menegaskan jika setiap proyek-proyek pengerjaan yang ada di Tana Toraja
segera diselesaikan termasuk Kolam Makale yang kini diberi tambahan 50 hari kerja.

Nico menambahkan jika proyek pengerjaan yang lambat atau melewati batas waktu sudah dikatakan bisa putus kontrak. “Itu harus putus kontrak, jangan sampai kemudian
menimbulkan masalah jika sudah diberikan tambahan waktu namun belum terselesaikan, jelas jika dinas terkait yang memutus kontraknya, proses penalti harus
berjalan”ujarnya.

Lebih lanjut Ketua Dewan Kehormatan Tana Toraja ini menegaskan jika penting untuk memberikan pelajaran bagi pemerintah daerah dan juga kontraktor pelaksana, agar
pengerjaan Kolam Makale tidak mengulur waktu, apalagi sudah diberi tambahan waktu pengerjaannya. Dimana ia menambahkan jika waktu yang mepet dalam pengerjaannya dapat
berpengaruh dari kualitas pengerjaannya.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melakukan penataan untuk mempercantik Kolam Makale dengan memasang landasan air mancur di tiga titik areal kolam Makale.
Bundaran kolam Makale tersebut merupakan tempat yang menjadi simbol atau icon dari Kota Makale, Tana Toraja. Bundaran kolam tersebut terdapat patung Lakipadada yang
menjadi simbol dan monumen perjuangan rakyat Toraja dalam mencapai kemerdekaan.

Kolam Makale sempat menjadi perhatian khusus dari Kejaksaan Negeri Makale, dimana pada 24 Januari 2018 Kasi Intel Kejaksaan Negeri Makale, Amri Kurniawan melakukan
peninjauan proyek pengerjaan Kolam Makale. Dimana ia menyebutkan segala sesuatu terkait proyek pengerjaan yang molor bakal mendapatkan sanksi berupa denda.

Amri Kurniawan yang juga merupakan Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Tana Toraja bakal melakukan koordinasi dengan dinas terkait dan
inspektorat terkait denda bagi kontraktor pelaksana tersebut. “Saya akan Koordinasi dengan inspektorat terkait proyek ini, bagaimana pengawasannya,”kata Amri.

Penulis: Andarias

LEAVE A REPLY