Tino Sarungallo [Int]

KabarToraja.com — Mengawali karier di bidang jurnalistik di era tahun 1980an, Tino Sarungallo kini sukses menjadi produser film sekaligus penulis buku. Sempat menjadi reporter di tabloid dwi-mingguan “Mutiara”, majalah berita dwi-mingguan “X’tra”, majalah berita bergambar “Jakarta-Jakarta”, dan penulis lepas di berbagai media. Pria keturunan Toraja ini akhirnya sukses bahkan menjadi maestro film Indonesia.

Pria asal Kesu’ Toraja Utara ini adalah putra dari Renda Sarungallo. Dimana sang ayah memang asli Toraja dan keluarga besarnya dari kawasan Buntu Sarira tapi kini memiliki pusat keluarga yang bermukim desa Ke’te dan sekitarnya.

Jejak rekam dari mantan reporter majalah ini ternyata tidak hanya sampai di penulis buku saja, Tino juga mengawali karier di dunia pertelevisian pada saat dirinya bergabung di stasiun televisi swasta RCTI berdiri tahun 1988. Sejak saat itu bekerja akrab dengan pembuatan program televisi sebagai Manajer Produksi maupun Penulis untuk program maupun drama televisi. Dari program televisi merambah ke produksi film iklan dan film cerita. Meski pernah menjadi Sutradara film iklan selama beberapa tahun di paruh kedua dekade 1990-an namun pada awal tahun 2000-an ia memutuskan untuk lebih menekuni profesi Asisten Sutradara # 1 dan Manajer Produksi.

Tidak heran jika warga Toraja dalam ajang Festival Film Toraja 2017 menobatkan pria kelahiran Jakarta 10 Juli 1958 sebagai Tokoh Film dan juga sebeagai peraih award di TFF 2017 Lifetime Achievement.

Meski Tino kerap dijadikan pemeran figuran di berbagai film, namun dirinya tak melewatkan dari berbagai karya film yang di sutradarainya. Dimana ia pernah mengerjakan film cerita sebagai bagian dari departemen produksi adalah “Victory” (Mark Peploe, 1995), “Last to Surrender” (David Mitchell, 1999), “Pasir Berbisik” (Nan T. Achnas, 2001), “Ca-bau-kan” (Nia diNata, 2002), “The Fall” (Tarsem Singh, 2006), “Jermal” (Ravi L. Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke, 2008), “Eat Pray Love” (Ryan Murphy, 2010), “Sang Penari” (Ifa Ifansyah, 2011) dan terakhir “The Philosophers” (John Huddles, 2013).

Sebagai pemain film ia pernah tampil sebagai figuran, cameo ataupun peran pendukung dalam film “Petualangan Sherina” (Riri Riza, 2000), “Arisan” (Nia diNata, 2003), “Pesan Dari Surga” (Sekar Ayu Asmara, 2006), “Dunia Mereka” (Lasya Fauzia, 2006), “Quickie Express” (Dimas Djayadiningrat, 2007), “Tri Mas Getir” (Rako Prijanto, 2008), “MBA” (Winalda, 2008), “Jagad X-Code” (Herwin Novianto, 2009), “Pintu Terlarang” (Joko Anwar, 2009), “Kabayan Jadi Miliuner” (Guntur Soeharjanto, 2010), “Rayya: Cahaya Di Atas Cahaya” (Viva Westi, 2012), “Soedirman” (Viva Westi, 2015), “Alim Lam Mim/3 Fighters” (Anggy Umbara, 2015), “The Fighters” (Monty Tiwa, 2015) dan “Bis Malam” (Emil Heradi, 2016). Ia selalu menyebut diri sebagai spesialis peran sekelebat.

Di dunia film dokumenter ia pernah memproduksi sebuah film dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul “Student Movement in Indonesia: they forced them to be violent” yang mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul pada bulan Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004. Salah satu dampak dari kemenangan ini adalah ia seringkali diundang menjadi juri festival film dokumenter seperti Festival Film Indonesia ataupun Eagle Awards Documentary Competition di Metro TV.

Tokoh Film yang memiliki pendidikan di Fakultas Sastra Jurusan Asia Timur Program Studi Cina, Universitas Indonesia ini ternyata memiliki sejumlah kisah dari namanya, dimana nama Tino berganti jadi Dino hingga nama lafal nama fam yakni Sarungallo juga biasa di tulis Saroengallo, bahkan kesalahan yang sering terjadi pada nama keluarga yang berasal dari kata “sarong” dan “allo” ini adalah “Sarunggalo”, “Saronggalo”, “Saroenggalo”. Kesalahan yang berakar dari ketidak-biasaan warga mayoritas bangsa Indonesia dalam melafalkan suku kata di tengah sebuah kata dengan huruf vokal. Pelafalan [sa-rung-al-lo] pun otomatis dibaca [sa-rung-ga-lo] dan terbawa dalam penulisannya. Bila diingatkan bahwa di belakang ada dua ‘l’, maka ada juga yang menuliskannya menjadi “Sarunggallo” atau “Saroenggallo”. [FZ/Berbagai sumber]

LEAVE A REPLY