/
Menelisik Parang Khas Toraja Di Sentra Logam Pande Besi Labo’

Menelisik Parang Khas Toraja Di Sentra Logam Pande Besi Labo’

0

KabarToraja.com — Parang atau orang suku Toraja menyebutnya La’bo kini menjadi ole-ole khas asal Toraja. Dimana benda tajam ini memiliki sentra logam pande besi di Lembang La’bo Kecamatan Sanggalangi Toraja Utara.

KabarMakassar.com menemui pandai besi, orang Toraja menyebutnya “Pande Bassi” yakni Rappo (47 Tahun) atau Papa Desi warga sekitar memanggilnya. Meski tak seperti industri pengrajin pandai besi lainnya, rumah sederhana miliknya menjadi tempat orang-orang membeli parang Toraja.

Di Lembang La’bo meski tak semua menjadi pengrajin parang, namun ada satu wilayah diarea tersebut 10 kepala keluarga menjadi pande bassi dan langsung menjual dirumahnya. Ia menjadikan dapur rumahnya untuk mengolah beberapa besi terbuat dari perr mobil, stainless atau besi baja dll untuk dijadikan jadi parang.

Papa Desi sapaan akrab Rappo mengaku jika sejak kecil ia melihat neneknya membuat parang dengan beberapa orang yang berada disekitar rumahnya. Sebelumnya ia pun bercerita kalau rata-rata warga di Labo’pada umumnya petani saat itu dan mencoba peruntungan untuk menjadi pande bassi (pembuat parang).

Dari situ melihat keuntungan yang sangat baik, serta memperbaiki ekonomi, Papa Desi mengambil waktu sembari menunggu panen padi di sawah untuk membuat parang.

“Jadi saya kalau sudah selesai pekerjaan di sawah, tunggu saat panen yah.. buat parang dari cara orang-orang dulu membuat parang secara manual”kata Papa Desi kepada KabarMakassar.com saat berkunjung di Labo’Toraja Utara.

Parang bagi Papa Desi yang membuat dirinya secara ekonomi berubah dan membuat dirinya mampu membiayai anak-anak sekolah, ia juga mengatakan jika tidak hanya menjadi petani yang menghidupi tetapi parang Toraja juga sangat menjamin kehidupan masyarakat disekitarya dengan skil warisan orang tua.

Semasa kecil, Papa Desi diajari orang tuanya membuat parang dibelakang rumahnya hingga kini ia bersama empat rekannya yang juga tak lain tetangga mampu memproduksi 10 buah Parang Toraja selama satu bulan.

“Kalau satu bulan, maksimal kami bisa sepuluh buah parang, ada empat orang yang kerjakan, itu sudah cukup dan memang harus sabar jika mengolah besi biasa jadi parang”tambahnya.

Rumahnya pun kerap didatangi oleh orang-orang baik wisatawan maupun perwira tinggi lingkup TNI dan Polri, bahkan pejabat dari luar Toraja pun sempat menyambangi kediamannya karena penasaran dengan parang buatan Papa Desi.

“Iya kalau turis biasa datang, ada yang beli ada yang bertanya-tanya dan saya senang juga. Biar rumah bukit-bukit begini datang lihat parang-parang bikinan kami. Paling berkesan ada perwira TNi pesan parang untuk ole-ole, ada juga pejabat saya lupa siapa, tapi dari luar Toraja”cerita Papa Desi kepada KabarMakassar.com

Berbeda saat era sekarang, Papa Desi mengakui jika gagang parang yang terbuat dari Bambu atau orang Toraja menyebutnya ‘Pattung’ sulit untuk dibuatnya. Bahkan ia kini mulai membeli gagang parang dari Pattung tersebut.

“Dulu saya, biasa ukir sendiri gagang atau sarung parang buatanku, tapi sekarang lebih mudah karena ada warga disini yang khusus membuat gagang dan sarung parangnya sehingga memudahkan saya untuk produksi dengan membelinya”kata Papa Desi.

Ia menambahkan jika Gagang dan Sarungnya cukup mahal, dari situ ia hanya mampu memproduksi parang dan cukup membeli gagang dan sarung parang. Namun jika dipesan ia sanggup membuatnya, apalagi jika ada pesanan gagang parang dibuat dari tanduk kerbau.

Gagang Tanduk kerbau jika dipsean, Papa Desi langsung siap membuatnya. Dimana meski proses pembuatannya ditafsir dua minggu ia pun menyanggupi karena rata-rata hasil penjualannya kerap mendapatkan keuntungan besar hingga jutaan rupiah.

Ada beberapa jenis parang yang dijual Papa Desi, mulai parang digunakan untuk menyembelih hewan Kerbau, Parang untuk memangkas Pohon, dan parang ukiran toraja untuk ole-ole hingga badik.

“Yang banyak pesan yang ukiran Toraja sarung parangnya, dan juga yang gagangnya dari Tanduk kerbau”ungkapnya.

Ditanya soal harga ia mengatakan bervariasi, mulai dari harga termurah Rp150 Ribu hingga Rp5 juta.

“Parang paling murah bukan soal ukuran panjang dan kecilnya. Tapi proses pembuatannya dan motif ukurannya. Dan memang ketajaman parang juga membuat parang mahal. Jadi parang ukiran dan pesanan paling mahal dan paling murah jenis badik dan parang untuk digunakan pemangkas pohon atau kebutuhan dirumah sehari-hari seperti potong daging ayam dan ikan”tambahnya.

Parang buatan Papa Desi tidak hanya dijajakan dirumahnya di Lembang La’bo, Kecamatan Sanggalangi. Namun ia juga tiap dua minggu sekali ke Pasar Bolu di Kota Rantepao untuk menjual parang buatan asli La’bo.

Editor: Fritz V Wongkar

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY